an ordinary journey.

an ordinary journey.

Into the vertical, is it possible?

Friday, April 7, 2017

oleh : Annisa Nur Ramadhani
opini mahasiswa arsitektur amatiran

Dunia semakin berkembang. Dalam dimensi waktu, perubahan tak terelakkan. Perkembangan dalam lini manapun menjadi lumrah, baik dari segi jumlah maupun kualitas. Penduduk berkembang, padat merayap di perkotaan. Sudah tentu hal ini akan mengakibatkan pertambahan kebutuhan, sebut saja yang primer. Sandang, pangan, dan papan.
Membahas tentang papan, kebutuhan akan hunian di perkotaan yang semakin hari semakin bertambah, menjadikannya padat sesak, hingga terkadang yang terpinggirkan mendapatkan yang tidak layak. Padahal, dalam forum Habitat III di Quito September lalu, bukankah terdapat penjanjian akan pentingnya "adequate shelter for all"? Apakah ini hanya akan menjadi pasal pasal normatif yang tercetak namun miskin implementasi? Memang, bukan hal mudah untuk mewujudkannya, bahkan mungkin sangat sulit mengingat dinamika masalah yang terjadi pada negara berkembang seperti Indonesia. Problematika tersebut menjalar menjadi sebuah masalah multidimensional, bahkan bercabang ke segala penjuru. Menyentuh aspek aspek vital seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dan lainnya.

Scarcity of land. Apakah benar terjadi?
Lahan. Hal terpenting untuk membangun sebuah rumah. Tanpanya, rumah tidak akan bisa berpijak. Namun yang menjadi permasalahan adalah lahan di daerah perkotaan semakin menipis. Atau bukan menipis, melainkan disalahfungsikan untuk hal-hal komersil, yang menurut hitungan ekonomis lebih berprofit. Entahlah. Apakah scarcity of land itu benar benar ada, atau hanya faktor kebijakan yang tidak bisa membagi peruntukan lahan dari kotanya secara seimbang.
Dan ketika berbicara lahan tempat tinggal untuk masyarakat berpenghasilan rendah, hampir sudah dipastikan mereka kurang berdaya. Banyak mungkin terjadi kasus sengketa lahan permukiman kumuh tanpa hak milik tanah, karena memang lahan tersebut dimiliki pihak swasta atau pemerintah. Lagi-lagi, ini sulit. Apalagi jika berurusan dengan swasta, akan menjadi rumit dan akhirnya berujung pada penggusuran.

In Situ Development, or Relocation?
Pada awalnya, saya sangat kurang setuju dengan adanya penggusuran dan ide relokasi ke rumah susun. Karena menurut saya, rumah susun tidak akan pernah bisa menggantikan ruang sosial yang dibentuk oleh sebuah kampung. Karena kampung memiliki makna yang lebih dari sebuah ruang sosial, ruang budaya, ruang ekonomi, ruang hidup, kenangan, sejarah, dan cita-cita.
Dulu saya beranggapan bahwa makna tersebut tidak akan bisa tergantikan. Karena kampung menjadi identitas dari sebuah kota tempat budaya lahir dan tumbuh berkembang. Tempat masyarakat khususnya yang berpenghasilan rendah dapat memiliki ruang sosial dengan permaknaan yang paling maksimal. Dan ketika masih memungkinkan untuk dipertahankan sebagai sebuah kampung, berbagai pihak harus bahu membahu untuk memperjuangkan dan memperbaiki kualitasnya, mulai dari pihak pemerintah, akademisi, NGO, praktisi, dan sudah tentu partisipasi masyarakat sendiri.
Namun sekarang muncul pertanyaan lain, bagaimana ketika itu sudah bukan lagi sebuah kampung yang berpredikat slum, tapi squatter? Bagaimana apabila kampung tersebut berupa squatter atau permukiman liar dan ilegal yang berdiri bukan di tanah mereka sendiri namun tanah pemerintah ataupun tanah swasta? Dan bagaimana ketika tanah tersebut milik pemerintah yang rencananya akan difungsikan untuk hal-hal vital seperti fasilitas perkotaan nantinya? Atau bagi pihak swasta, tanah tersebut berharga sangat mahal dan akan dikembangkan menjadi kawasan real estate dengan keuntungan berjuta dolar? Tentunya masyarakat penghuni tersebut tak akan berdaya, pihak pihak pemilik tanah pasti akan memperjuangkan hak miliknya. Dan rumah penduduk tersebut hanya akan tinggal puing puing yang diratakan, sama ratanya dengan kenangan dan sejarah didalamya.
Ketika menghadapi suatu kondisi tersebut, jawaban satu-satunya adalah into the vertical, alias relokasi ke rumah susun.






 Menggali Ruang Sosial Hunian di tengah Keterbatasan
Ketika satu satunya jawaban adalah relokasi ke rumah susun, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana lingkungan rumah susun tersebut dapat menjadi sebuah jelmaan representasi kampung yang sarat makna. Bagaimana sebuah tipologi rumah susun dapat menjadi pengganti fungsi hunian di kampung yang mewadahi ruang sosial penghuninya? Juga sebagai ruang ekonomi, budaya dan bahkan ruang bersama untuk menggalang secercah asa perubahan. Lalu pertanyaannya, bagaimana?
Sebelum membahas permasalahan tersebut, marilah kita mengenal hakikat ruang dalam permukiman terlebih dahulu. Dalam definisinya, space atau ruang, termasuk outdoor space, adalah salah satu hasil dari arsitektur dan urban design. Space atau ruang ini dipengaruhi oleh geografi, lingkungan terbangun, sosial, budaya yang dapat mengarahkan (affordance) perilaku manusia ke dalam suatu pola tertentu [1]. Selain itu, space juga dipengaruhi oleh persepsi, pengalaman, perilaku spasial, dan makna yang dirasakan oleh user atau pengguna. Persepsi sesorang terhadap space juga dipengaruhi oleh faktor budaya. Budaya terbentuk secara kontekstual dan memiliki ke khas an masing-masing di berbagai konteks wilayah dan setting.
Ketika berbicara tentang konteks, permukiman di Indonesia memiliki dualisme tipologi, dimana terdapat horizontal housing dan vertical housing. Apabila dikerucutkan lagi untuk konteks masyarakat berpenghasilan rendah, horizontal housing mayoritas berupa kampung dan vertical housing berupa rumah susun.




Sepertinya merupakan hal lumrah apabila kita berbicara tentang  social space pada tatanan hunian kampung, dimana dalam tipologi ini social space yang dihadirkan dapat meraih kondisi optimalnya. Social space yang dapat dihadirkan di kampung juga beragam, mulai dari ruang sosial antar penghuni, ruang ekonomi, ruang budaya, ruang bermain anak, dan fungsi-fungsi lainnya. Shared outdoor space dalam konteks Kampung urban di Indonesia merupakan gang atau jalan kecil yang berada di Kampung. Juga area-area lain di sekitar permukiman yang digunakan bersama untuk kegiatan komunitas warga dan membangun sense of neighborhood [2]. Selain itu, open space diluar rumah memiliki peran yang signifikan terhadap kehidupan di kampung. Gang kampung tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan, antara lain memasak, mencuci, bermain, mandi, dan community gathering. Dimana mengurangi luas shared outdoor space di kampung berarti mematikan kehidupan dan budaya di kampung [3].

Eksistensi Ruang Sosial dalam Rumah Susun, apakah hanya fiksi?
Ruang sosial di kampung terbukti bukan menjadi sebuah cerita fiksi belaka. Ia memang ada, nyata, dan dapat dirasa. Lalu bagaimana dengan ruang sosial di rumah susun? Karena bagaimanapun, perkembangan peradaban khususnya di perkotaan akan membawa kita pada satu budaya baru kedepannya, yakni budaya hunian vertikal, rusun salah satunya. Mau tidak mau. Namun yang menjadi fenomena adalah, masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan budaya dan pola tipologi rumah susun. Koridor  rumah susun yang tergolong sempit dan susunan permukiman vertikal kurang dapat mewadahi kebutuhan akan ruang sosial dan budaya masyarakat. Seperti contohnya pada rusunawa Penjaringan dan rusunawa Randu di Kota Surabaya berikut. Dimana rusun tersebut memiliki koridor yang relatif sempit, yakni sekitar 1,5 – 2 meter. Lalu dengan kondisi koridor seperti ini, apakah ketercapaian pengadaan ruang sosial tersebut dapat terpenuhi? Rasanya sulit untuk menghadirkan ruang sosial yang sarat makna tersebut dengan keterbatasan ruang ini. Lalu, [fiksi]kah eksistensi ruang sosial pada rumah susun?


 
Belajar pada Rusunawa Sombo, Surabaya
Tidak perlu terburu-buru untuk mendefinisikan sesuatu. Seperti tentang pertanyaan apakah ruang sosial pada rumah susun hanyalah sekedar fiksi belaka. Karena semua pertanyaan pasti dirancang untuk menemui sebuah jawaban. Dan agar jawabannya bukanlah sebuah fiksi belaka, kini muncullah satu pertanyaan penting tentang bagaimana peran arsitek yang harus sebisa mungkin mendesain koridor rusunawa sehingga dapat mengakomodir ruang sosial penggunanya seperti di kampung.
Dalam hal ini kita bisa belajar pada rusunawa Sombo di Kota Surabaya. Rusunawa Sombo yang dibangun sejak tahun 1989 ini didesain dengan koridor lebar dengan tujuan mewadahi behaviour setting penggunanya sama seperti karakteristik gang di Kampung. Koridor yang sangat lebar 3m-9m memberikan kesan sangat longgar, dipakai sebagai ruang bersama dengan bentuknya yang dinamis. Mayarakat rusun Sombo ini merupakan masyarakat permukiman kumuh Sombo yang direlokasi ke rusun. Permukiman kumuh tersebut mempunyai tingkat kepadatan yang sangat tinggi dan sangat kumuh [4].
Dalam sejarahnya, rumah susun Sombo merupakan hasil urban renewal dan relokasi dari warga yang tinggal di kampung kumuh dengan lokasi yang sama sebelumnya. Pattern budaya masyarakat kampung mengakibatkan pola perilaku yang diharapkan terjadi di rusunawa dapat mewadahi aktifitas sosial seperti di kampung, namun tentunya terdapat perbedaan yang terpengaruh oleh setting lingkungan, dimana rusunawa yang bersifat vertical space dan kampung yang bersifat horizontal space. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan pendekatan partisipatif yang hendak mempertahankan gaya hidup yang sudah biasa dianut masyarakat yaitu guyub dan bersama, diusahakan juga agar pola komunitas terjaga dengan baik. Penduduk juga diberi peluang tidak saja meyetujui pola perencanaan yang ditawarkan, tetapi ada pula kesempatan untuk menyelesaikan kekhasan di masing-masing blok, seperti perumahan di kampung. Hal ini membuat masyarakat lebih menyatu dengan rumah dalam standar yang lebih tinggi [5]



Dengan adanya pendekatan ini, dapat diidentifikasi aktifitas masyarakat yang terjadi di rusun Sombo hampir sama dengan aktifitas penduduk di kampung. Dengan desain koridor yang cukup lebar dan luas tersebut, banyak dinamika aktifitas ruang sosial yang dapat terwadahi. Dalam hal ini, koridor menjadi sebuah tempat penghubung kegiatan bersama penghuni rumah susun. Seperti contohnya kegiatan primer yang selalu dilakukan penghuni setiap hari yakni makan, mandi, mencuci, menjemur pakaian, dan memasak. Juga kebutuhan aktifitas sekunder seperti bersosialisasi, bermain, berdagang, dan lain sebagainya.

Koridor pada rusunawa Sombo juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang bermain anak yang nyaman. Karena bagaimanapun, anak akan menghabiskan waktu terbanyaknya berada di rumah. Mulai dari belajar, bermain, sampai pembentukan karakter dasar pribadi masing-masing anak. Dan apabila sebuah hunian seperti rusun tidak ramah terhadap ruang bermain anak, tentu dapat dibayangkan betapa buruk dampaknya terhadap perkembangan anak. Karena seperti statement Lynch yakni “a good world for children is a good world for all” (Lynch,1984).
Selain itu yang menjadi menarik, banyak personalisasi yang dilakukan penghuni terhadapkoridor untuk memenuhi aktifitas sehari-harinya. Sehingga bukan hanya ruang sosial yang terbentuk, melainkan fungsi lain seperti ruang ekonomi juga dapat dilakukan di koridor rusunawa Sombo. Mulai dari aktifitas ekonomi individu penghuni, aktifitas jasa seperti menjahit, sampai koridor rusunawa dapat menjadi tempat berdagang pedagang kaki lima. Meski tak seharusnya seperti itu, namun aktifitas ekonomi tersebut terbukti mendapat respon positif dari penghuni. Dimana para penghuni dapat memiliki bisnis keluarganya sekaligus menjadi konsumen untuk produk-produk yang dijajakan tanpa harus keluar dari blok rusunawa.

 Dalam studi kasus ini, terlihat bahwa koridor rumah susun juga dapat menjadi sebuah penjelmaan dari gang kampung dengan turut serta membawa permaknaannya sebagai ruang sosial yang paling optimal bagi penghuni. Sehingga menjadi bukti, bahwa apabila rumah susun didesain dengan strategi desain yang baik serta melibatkan partisipasi masyarakatnya, ruang sosial yang dihadirkan bukan hanya sebuah fiksi dan klise belaka. Ruang sosial tersebut dapat menjelma menjadi suatu makna yang  nyata. Meskipun pada implementasinya, mendesain rumah susun secara partisipatif tentunya tidak mudah, butuh waktu dan proses yang panjang. Bahkan mungkin biaya yang juga tidak murah. Namun apabila masyarakat bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, bukankah proses yang panjang tersebut patut untuk diperjuangkan?

Namun bagaimanapun, tulisan ini hanya merupakan opini dan argumentasi dari seorang mahasiswa arsitektur yang masih amatir dan perlu banyak belajar. Berakar dari sebuah kondisi nyata yang ada, sedikit mencoba untuk menelisik realita.

:)

Tuesday, April 4, 2017

karena yang bisa kulakukan sekarang hanyalah terus berjalan. dan kalau boleh salah satu yang kuharapkan adalah bertemu dengan "kamu" di perjalanan. entah seberapa melelahkannya perjalanan. tapi bukankah ketika aku dan kamu terus berjalan dengan berlelah, pada akhirnya kita akan saling dipertemukan? bukan akhir, kamu bukan akhir. kamu adalah akhiran untuk sebuah awalan. awalan untuk sebuah tujuan yang panjang. tujuan yang akan diisi dua orang yang berlelah bersama :)
#maaplagimenye :' 

nano nano

Wednesday, March 15, 2017

karena mungkin segala macam bentuk ujian rasa dengan berbagai warna itu harus dialami seorang manusia terlebih dahulu sebelum bisa menyandang gelar dewasa. semuanya, tidak boleh kurang. rasa bahagia, gagal, jatuh, sedih, senang, syukur, menyerah, bimbang, dan lainnya yang macemnya gak ketulungan banyaknya. iya semuanya. jadi jangan terkaget kaget dengan kejutan kejutan perjalanan hatimu yang jatuh bangun, tandanya insyaallah mau naik kelas, selangkah demi selangkah menuju gelar dewasa. sedang ditimpa sedemikian rupa agar memiliki kematangan hati kelak, yang kapasitasnya bisa semakin berkembang untuk mewadahi beban hidup yang juga pastinya semakin mengembang seiring perkembangan zaman. wqwq. jadi, yuk kuatkan dan teguhkan hati untuk selalu berjuang dalam kebaikan! smangaaat semoga langkah kita selalu dikuatkan dan dibimbingNya dalam segala hal :)

entahlah

karena aku tiba di suatu titik dimana aku mempertanyakan kembali tujuan atau mimpiku yang selama ini aku yakini adalah yang terbaik. ternyata belum tentu. atau mungkin bukan tujuannya yang kupertanyakan, tetapi jalan menujunya. yakin yang begitu kuat bisa disulap dalam waktu yang mungkin cukup lama menjadi setitik ragu. keraguan yang membesar menjadi tak berujung. Keraguan yang sama sekali tidak kuprediksikan sebelumnya, karena yakinku menujunya begitu kuat saat itu. Aku pikir itu yang ku mau. Tapi buktinya belum tentu. Sekarang lihat, betapa Allah dengan mudahnya membolak balikkan hati begitu terasa. Setidaknya sekarang. Entah nanti. Entah esok hari. Ya, karena Allah maha membolak balikkan hati. Entahlah. Kupasrahkan hati ini padaNya sang penggenggam cita. Tapi aku mulai bertanya. Aku mulai ragu. Benarkah jalan itu yang harus kutuju? Aku pun mulai memperhitungkan jalan jalan lain yang bisa jadi bisa tidak, lebih baik. Tapi benarkah begitu? Jangan jangan ini hanya ujian keteguhan hati. atau memang ada jawaban lain yang lebih baik yang datang menghampiri. aku masih terus bertanya dan bertanya. ya Tuhanku, jalan mana yang harus kutuju?
jalan apapun yang semoga selalu dapat mendekatkanku pada ridhoMu
Oh Allah, because beyond anything, I just need your hold. So I really beg You to hold me in everything, because I'm just a weak that knows nothing. O Allah, I please you to hold a whole of my heart, and control everything in it. My faith, my deen, my hope, my dream, my love, and everything. Because You are almighty who could flipping upside down my heart easily. You're the owner of it and I know nothing, but You know everything. Oh Allah I know your love and grace to me is beyond everything, beyond anything. You embrace me whenever I fall, whenever I hurt myself badly. You always smile for me whenever I'm happy and some good things happen in me. You always forgive me when I beg you, even there is sinner inside of me. I'm totaly Yours, hold me tight Oh my Lord, I'm really afraid to lose you. I'm really nothing without you. I love You and please hold my heart to always love You :') 

sederhana dan cukup

kalau ditanya apa karuniaNya yang paling aku harapkan? adalah diriku yang selalu berdoa agar bisa berbahagia karena hal hal yang sederhana. sesederhana apapun. sehingga dengan sederhana aku bisa bahagia. tidak perlu sulit sulit mencari apalagi mengais kebahagiaan yang rumit, karena aku bisa bahagia dengan hal hal yang teramat sederhana. mencintai hal hal yang sederhana.  sesederhana apapun. semoga :)
karena pada akhirnya kita hanya perlu sesuatu yang cukup. meminta sesuatu yang cukup. memilih hal hal yang cukup. menerima dan mendapatkan apa apa yang cukup. dan Allah akan selalu mencukupkan kita dengan sesuatu yang cukup, karena dengan cukup itulah hakikatnya kenyamanan akan kita raih, dan masih tersedia ruang gerak untuk senantiasa memperbaiki diri. asal selama syukur kita lebih dari cukup, apa apa yang cukup akan memberikan kebahagiaan dan keberkahan yang luar biasa cukup, insyaallah :) 

monokromku :)

Tuesday, March 14, 2017

thanks for being the greatest blessing I've ever had :')
for my supermom who her shell seems strong 
yet actually the most caring, sincere, and lovable person in this universe.
and my superdad who taught me a lot about the meaning of responsibility
loyalty, patience, modesty, and tenderness of heart.
a thousand millions thanks from your little one,
for every billions bunch of loves you always give since the time I was born uto the eternity :')
thanks for always understanding this stubborn little daughter of yours :')

and dream big my little one, my free spirited yet the caring one little brotherdance to your own rhythm, dear. find your fire and keep moving forward in the long yet beautiful journey of yours. 
don't ever worry as long as Allah is with you ;)
keep wander and always wonder, I know you can dude!


backsound nya tulus ini ngena banget yes >,<

yuk!

Wednesday, March 8, 2017

hey, hati hati. sudah bukan jamannya lagi melihat sesuatu dengan sebegitu dangkalnya. memaknai sesuatu hanya melalui permukaan yang memang sengaja (si)apapun perlihatkan, sekali lagi, hati hati. ketika kamu salah mengejawantahkan sesuatu itu bisa jadi bahaya, bisa jadi gang buntu atau jalan terjun bebas. dan memang sudah seharusnya metode berpikir memang perlu sebegitu rumitnya, sebegitu terbukanya namun tetap dalam koridor prinsip yang jelas dan haruslah benar. benar yang bukan asal pembenaran. bukan juga pembenaran yang asal asalan. juga harus seimbang. beripikir logis tapi juga jangan hanya logika yang jadi pertimbangan. nanti kamu nggak peka sama lingkungan jadinya. selangi dengan feeling alias pake hati, tapi juga jangan kebanyakan, nanti mbulet nggak jadi jadi. karena masalah hati emang kayak ngurusin anak bayi kata temenku. ya jadi yang seimbang, logis tapi pake hati. peka sama lingkungan tapi teteintuitive. karena kalo kamu terlalu peka sama lingkungan aja, yang ada kamu nggak akan punya prinsip yang kuat akarnya, karena terlalu adaptif. tapi kalo terlalu intuitive nantinya jadi self center alias egois. juga jangan terlalu banyak judging, tendensinya jadi terlalu cepat ngecap atau melebeli sesuatu atau siapapun, tapi juga jangan kebanyakan prospecting. nanti kamu nggak bisa cepet dan teges ngambil keputusan. makanya yang seimbang. belum bisa? ya gak papa, aku juga masih belum, jadi, yuk sama sama belajar! ;)

karena hakikatnya

Sunday, February 26, 2017

repost from kurniawangunadi.tumblr.com :


Karena akan kau kenali dirimu yang sebenarnya di tengah kerendah hatimu, di tengah kesepianmu, ditengah kekhawatiranmu, juga mungkin di tengah titik terendahmu. percayalah, waktu waktu tersebut akan mengantarkanmu pada kontemplasi mendalam tentang hakikat kehidupan dan sarana mengenal dirimu sendiri yang paling mujarab. karena semakin kau mengenali dirimu, semakin proses pendewasaanmu bertambah, semakin kau akan menjadi tawadu', karena kau paham bahwa hakikatnya mengejar eksistensi di dunia ini hanyalah tipu daya yang semu. karena orang yang percaya padamu tidak perlu itu, dan yang tidak suka padamu tidak akan percaya itu. lalu, masih mau mengejar yang semu itu?
#notetomyself #yukluruskanniat

be yourself even more.

Thursday, February 16, 2017

don't be afraid to being yourself. you couldn't change what people are, so do you. you couldn't change who you are, even if you want. because you are what you were going through until this day since you were born. a whole packets of emotions, struggle, happiness, grateful, sorrow, and anything that happens to you, that forms who you are now. that's why everyone could be so different from each other, because there are no one went through the exact typical emotional journey in their life. so don't try to change who you are. and even if you want to change who you are, you just couldn't afford it. so don't bother yourself being busy of something wasteful. and now, your task is just to be the best version of you. so you could continue to be yourself even more. loving yourself even more. knowing that you have to love yourself first to know how to love someone fully, perfectly. and spread your love, kindness, and happiness to everyone surround you.       and still being you.

memaknai asumsi.

Wednesday, February 15, 2017

jangan berasumsi. karena kamu tidak akan pernah bisa sepenuhnya memahami isi hati. juga jangan berekspektasi. kamu tidak akan pernah tahu terwujud atau tidaknya semua mimpi yang kau ingini. karena akankah selalu datang apa apa yang kamu nanti? tidak, jawabannya tidak pasti. maka, berhentilah berasumsi. sudahilah berekspektasi. lakukan apa yang terbaik yang kamu bisa hari ini. hiduplah untuk hari ini. jangan cuma bisa berekspektasi. ya, aku sudah malas berasumsi, apalagi berekspektasi. itu semua cuma basa basi. ah, sudah bukan jamannya lagi. #notetomyself

mengalah

Friday, February 10, 2017

ada orang yang bilang bahwa seharusnya mimpi seorang wanita hanyalah sebesar pasir yang digenggam, yang bisa hilang dan diganti kapan saja. akhir akhir ini aku memikirkan makna frasa tersebut dengan dalam, entah mengapa itu begitu membekas. lalu bagaimana denganku? yang barangkali terkadang masih ingin memegang teguh sebuah mimpi karena itulah yang menjadi bahan bakar dalam sebuah hidup. karena cukuplah sulit merubah sebentuk karakter seseorang yang memang terbentuk dari rangkaian perjalanan emosi yang tidak sebentar, panjang. walaupun sebenarnya bisa disesuaikan dan berubah seiring pertambahan perjalanan emosi yang dihadapinya. karena proses pendewasaan akan selalu muncul mengiringinya. karena mungkin frasa tentang hakikat mengalah itu ada benarnya. bahkan mungkin sangat benar. karena mengalah adalah kunci bagi seorang wanita nantinya, maka dari itu habiskan egomu secepatnya, atau belajarlah mengalah dengan sebaik baik maknanya. butuh proses, pastinya. namun setidaknya bersyukurlah, ketika kita mulai menyadarinya. karena bagaimanapun, mengalah akan menjadi kebanyakan peran kita kelak. tetapi tetap tanamkan bahwa jalan terbaik adalah berdiskusi untuk mencapai suatu keputusan yang kedua pikiran dan pendapat terlibat di dalamnya. sehingga kebaikanpun akan diraih dengan melibatkan kedua belah pihak. dan kelak, mengalahlah pada orang yang tepat, yang bisa menghargai sebenar benarnya arti dan makna kekalahan kita untuknya. karena kelak dia akan menjadi poros kehidupan kita, yang mengambil tanggung jawab diri kita yang sebelumnya terletak pada orang tua kita. betapa besar tanggung jawab yang dia emban untuk kita, betapa besar perjuangannya untuk kita. dan sudah menjadi tanggung jawab kita untuk mendampingi dengan sebaik baiknya kelak. bukankah memang seperti itu herarkinya? karena Surga mu pun akan terletak pada ridhonya. ketaatanmu menjadi ladang amalmu di hadapanNya. InsyaAllah, janji Allah tidak pernah salah :)

pasca kampus

Thursday, February 9, 2017

"entah mengapa perjalanan emosi akhir akhir ini sedemikian beragamnya, sebegitu tidak menentunya. menuntut kita untuk berpikir lebih dalam, lebih memaknai segala artinya. membuat kita walau belum sepenuhnya, bahkan mungkin hanya secuil saja, dipaksa mengerti tentang arti dan makna hidup sebenarnya. dituntut untuk berinstropeksi atas segala kesalahan dan keacuhan kita sebelumnya. akan apapun. perjalanan emosi yang rumit ini, semoga membawa banyak pembelajaran untuk kehidupan selanjutnya. bahwa hidup memang tidak pernah sesederhana sepertinya. bahwa konstruksi batin manusia memang terkadang selalu meninggalkan bias. sekarang kuncinya cuman satu, sabar dan syukurmu padaNya"

a dreamer idioms

Sunday, February 5, 2017

here's to the ones who dream
foolish, as they may seem
here's to the hearts that ache
here's to the mess we make
salah satu line script dalam film la la land yang membekas dan mendorong saya untuk sedikit berkontemplasi tentang mimpi dan kehidupan.

karena akhir-akhir ini aku banyak belajar, bahwa menjadi seseorang yang telah mengikatkan janji pada mimpinya itu mengandung konsekuensi yang cukup besar, tidak pernah mudah. terkadang dalam memperjuangkannya membuat kita sadar akan banyak hal, bahwa realita kehidupan sebegini rumitnya, menampik pemikiran pemikiran naif bahkan cenderung munafik yang mungkin seringkali muncul ketika kita masih belia. bahwa konstruksi batin manusia tidak pernah sesederhana kelihatannya. dan perjuangan tidak akan pernah dicapai dengan mudahnya.
tidak pernah ada mimpi yang sia sia. semua berharga, semua akan bermuara pada sebuah tujuan yang semoga bahagia. kalau tidak pun, akan tetap berujung pada hikmah nantinya, juga proses pendewasaan yang kalau bisa dibeli pastilah mahal harganya. ah, aku ini ngomong apa? berjuang saja belum terlalu, diuji juga tidak begitu, sudah berani ngomong tentang perjuangan?
maafkan aku bila lancang, tapi setidaknya aku ingin belajar memaknai perjuangan yang sedikit ini. tapi yang sedikit itu datang dengan beribu pembelajaran, yang bahkan mungkin bisa sampai mengubah cara pandangku terhadap sesuatu. cara pandangku terhadap hidup. bahwa apapun yang terjadi padamu, hidupmu tetap akan terus berjalan. waktu tak akan pernah menunggu untukmu selesai menyembuhkan luka hati itu. dia terus angkuh berjalan meninggalkan, membawa beribu kesempatan bersamanya. maka jangan kamu berhenti terlalu lama di persimpangan kehidupan, karena akan banyak kesempatan yang kamu lewatkan. yang bahkan mungkin akan lebih berharga dari yang kini kamu tangiskan. maka jangan lelah, tapi berlelah lelahlah. karena siapa tahu bahwa lelahmu kelak yang akan membawa berkah.
tapi memang kita manusia, yang terkadang kondisi batinnya tak pernah bisa setegar yang telah saya sebutkan. pasti terkadang lelah, jenuh, dan keputus asa an singgah menyapa. maka kembalikan semua itu pada Tuhan sang pembuat cita. perdengarkanlah keluh kesahmu padaNya, karena kalau sendirian kamu tidak akan pernah kuat. ditambah dukungan keluarga tercinta dan sahabat sahabat yang pastinya merupakan sebuah karunia yang tak terkira. dan karena itu, kamu pasti bisa.
tapi diatas itu semua, aku juga mempelajari sesuatu. bahwa penting untuk memikirkan tentang semua kemungkinan yang dapat terjadi. bahwa juga penting untuk membuat semua jalan tetap terbuka karena kita tidak pernah tahu dimanakah mimpi kita akan bermuara. karena keputusan tetaplah mutlak di tangan Allah yang maha kuasa, dan Dialah sebaik baik pembuat rencana. maka jangan pernah settle dengan satu rencana mu, tetaplah membuat banyak opsi dalam merangkai tujuanmu, tetaplah terbuka dalam mengambil suatu kesempatan. karena siapa tahu, kamu berjodoh dengan kesempatan yang tiba tiba singgah di perjalanan. di kala persinggahanmu dalam sebuah penantian dan perjuangan.
sekali lagi, jangan lelah. karena walau kamu lelah dan jenuh, hidupmu tetap akan terus berjalan.

she told me :
a bit of madness is key
to give us to color to see
who knows it will lead us?
la la land

ya karena terkadang sekerumun rasa yang berkecamuk itu, entah itu keoptimisan, kepesimisan, passion yang rasanya memang harus diperjuangkan, a little bit madness, ketidakterimaan akan suatu kegagalan, dan beribu hikmah yang terkandung dalam sebuah perjalanan membawa bumbu bumbu penyedap untuk melanjutkan perjalanan dan mentadaburi hikmah hikmah kehidupan. bukankah dari situ asalnya sebuah proses pendewasaan? bukan melulu tentang sebuah tujuan, tapi tentang pembentukan karakter kita di masa mendatang yang entah sama Allah disiapkan untuk jadi apa. apapun itu, semoga menjadi seseorang yang bermanfaat, insha Allah :)

but sometimes, acussed as a naive optimism person could be something important. that's how you'll keep on track on your dreams. and never let the negative thoughts get in your way. so keep that positive vibes around you, dear!
and see you soon, dreams,  I'll always fight for you :)

just like what Will Traynor say to Clark in "Me Before You"
ahaha this book is just... 

ketika bicara [cinta]

Wednesday, February 1, 2017

sebenarnya, apa itu cinta? sebenarnya tulisan ini merupakan hasil kontemplasi permaknaan kata atau rasa ini dari beberapa sahabat yang curhat tentang kisah mereka akhir-akhir ini. jarang jarang banget nulis yang genre beginian, ya gapapa lah ya sekali kali hehe.

terlepas pada apapun itu, rasa rasanya cinta adalah sebuah anugrah. anugrah yang pastinya datang dariNya, sang Maha Cinta. Dengan cara apapun itu, jangan tanya padaku. Karena terkadang cara Tuhan menyampaikannya pun tidak sampai di logika. Namun apapun itu, bukankah pada hakikatnya cinta yang baik adalah yang berusaha untuk menyempurnakan. Tentang sebaik baiknya makna penerimaan, kelebihan maupun kekurangannya, masa depan maupun masa lalunya. Namun bukan sepenuhnya menerima, melainkan tetap adanya usaha untuk saling memperbaiki diri untuk meraih jalan ridhoNya, dunia maupun akhirat. Tentang saling nasihat menasihati menuju kebaikan. Tentang saling mendukung, bukan hanya didukung atau terdukung dalam masing masing ranah tanggung jawabnya. Tentang mengalah pada ego yang terkadang masih seringkali membuncah. Tentang menentukan arah tujuan bersama, bukan lagi tujuan seorang pribadi tunggal, tapi bersama. Tentang dengannya, surgaNya terasa lebih dekat. Tentang kebahagiaan. Tentang rasa syukur. Tentang ketulusan. Tentang kenangan. Tentang harapan. Juga tentang kekecewaan. Tentang kekhawatiran. Tentang kesabaran. Tentang ketenangan. Mungkin juga tentang kesiapan.
Tentang apapun frasa dan diksi terurai yang pada akhirnya menuju kata penyempurnaan. Menyempurnakan ketidaksempurnaan. Walaupun tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan sepenuhnya hanyalah milikNya.
dan karena cinta itu hakikatnya anugrah, benar atau salah, tepat maupun tidak tepat, semuanya akan bermuara hikmah nantinya. Semua telah diatur dengan alasan dariNya. Mungkin disitulah Allah sedang menguji kita, seberapa besar keimanan kita kepada takdirNya. Insha Allah :)
Namun walau cinta telah kuuraikan panjang lebar, akupun sendiri belum paham maknanya, belum terlalu mengerti hakikatnya. Ah biarlah,  toh cinta adalah ketepatan dan ketetapan, orang yang tepat, waktu yang tepat, dan sesuai dengan ketetapanNya. Insha Allah, janji Allah tak akan pernah salah :)



Into the Vertical, is it Possible?

Friday, January 27, 2017

oleh : Annisa Nur Ramadhani
opini mahasiswa arsitektur amatiran

Dunia semakin berkembang. Dalam dimensi waktu, perubahan tak terelakkan. Perkembangan dalam lini manapun menjadi lumrah, baik dari segi jumlah maupun kualitas. Penduduk berkembang, padat merayap di perkotaan. Sudah tentu hal ini akan mengakibatkan pertambahan kebutuhan, sebut saja yang primer. Sandang, pangan, dan papan.
Membahas tentang papan, kebutuhan akan hunian di perkotaan yang semakin hari semakin bertambah, menjadikannya padat sesak, hingga terkadang yang terpinggirkan mendapatkan yang tidak layak. Padahal, dalam forum Habitat III di Quito September lalu, bukankah terdapat penjanjian akan pentingnya "adequate shelter for all"? Apakah ini hanya akan menjadi pasal pasal normatif yang tercetak namun miskin implementasi? Memang, bukan hal mudah untuk mewujudkannya, bahkan mungkin sangat sulit mengingat dinamika masalah yang terjadi pada negara berkembang seperti Indonesia. Problematika tersebut menjalar menjadi sebuah masalah multidimensional, bahkan bercabang ke segala penjuru. Menyentuh aspek aspek vital seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dan lainnya.

Scarcity of land. Apakah benar terjadi?
Lahan. Hal terpenting untuk membangun sebuah rumah. Tanpanya, rumah tidak akan bisa berpijak. Namun yang menjadi permasalahan adalah lahan di daerah perkotaan semakin menipis. Atau bukan menipis, melainkan disalahfungsikan untuk hal-hal komersil, yang menurut hitungan ekonomis lebih berprofit. Entahlah. Apakah scarcity of land itu benar benar ada, atau hanya faktor kebijakan yang tidak bisa membagi peruntukan lahan dari kotanya secara seimbang.
Dan ketika berbicara lahan tempat tinggal untuk masyarakat berpenghasilan rendah, hampir sudah dipastikan mereka kurang berdaya. Banyak mungkin terjadi kasus sengketa lahan permukiman kumuh tanpa hak milik tanah, karena memang lahan tersebut dimiliki pihak swasta atau pemerintah. Lagi-lagi, ini sulit. Apalagi jika berurusan dengan swasta, akan menjadi rumit dan akhirnya berujung pada penggusuran.

In Situ Development, or Relocation?
Pada awalnya, saya sangat kurang setuju dengan adanya penggusuran dan ide relokasi ke rumah susun. Karena menurut saya, rumah susun tidak akan pernah bisa menggantikan ruang sosial yang dibentuk oleh sebuah kampung. Karena kampung memiliki makna yang lebih dari sebuah ruang sosial, ruang budaya, ruang ekonomi, ruang hidup, kenangan, sejarah, dan cita-cita.
Dulu saya beranggapan bahwa makna tersebut tidak akan bisa tergantikan. Karena kampung menjadi identitas dari sebuah kota tempat budaya lahir dan tumbuh berkembang. Tempat masyarakat khususnya yang berpenghasilan rendah dapat memiliki ruang sosial dengan permaknaan yang paling maksimal. Dan ketika masih memungkinkan untuk dipertahankan sebagai sebuah kampung, berbagai pihak harus bahu membahu untuk memperjuangkan dan memperbaiki kualitasnya, mulai dari pihak pemerintah, akademisi, NGO, praktisi, dan sudah tentu partisipasi masyarakat sendiri.
Namun sekarang muncul pertanyaan lain, bagaimana ketika itu sudah bukan lagi sebuah kampung yang berpredikat slum, tapi squatter? Bagaimana apabila kampung tersebut berupa squatter atau permukiman liar dan ilegal yang berdiri bukan di tanah mereka sendiri namun tanah pemerintah ataupun tanah swasta? Dan bagaimana ketika tanah tersebut milik pemerintah yang rencananya akan difungsikan untuk hal-hal vital seperti fasilitas perkotaan nantinya? Atau bagi pihak swasta, tanah tersebut berharga sangat mahal dan akan dikembangkan menjadi kawasan real estate dengan keuntungan berjuta dolar? Tentunya masyarakat penghuni tersebut tak akan berdaya, pihak pihak pemilik tanah pasti akan memperjuangkan hak miliknya. Dan rumah penduduk tersebut hanya akan tinggal puing puing yang diratakan, sama ratanya dengan kenangan dan sejarah didalamya.
Ketika menghadapi suatu kondisi tersebut, jawaban satu-satunya adalah into the vertical, alias relokasi ke rumah susun.






 Menggali Ruang Sosial Hunian di tengah Keterbatasan
Ketika satu satunya jawaban adalah relokasi ke rumah susun, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana lingkungan rumah susun tersebut dapat menjadi sebuah jelmaan representasi kampung yang sarat makna. Bagaimana sebuah tipologi rumah susun dapat menjadi pengganti fungsi hunian di kampung yang mewadahi ruang sosial penghuninya? Juga sebagai ruang ekonomi, budaya dan bahkan ruang bersama untuk menggalang secercah asa perubahan. Lalu pertanyaannya, bagaimana?
Sebelum membahas permasalahan tersebut, marilah kita mengenal hakikat ruang dalam permukiman terlebih dahulu. Dalam definisinya, space atau ruang, termasuk outdoor space, adalah salah satu hasil dari arsitektur dan urban design. Space atau ruang ini dipengaruhi oleh geografi, lingkungan terbangun, sosial, budaya yang dapat mengarahkan (affordance) perilaku manusia ke dalam suatu pola tertentu [1]. Selain itu, space juga dipengaruhi oleh persepsi, pengalaman, perilaku spasial, dan makna yang dirasakan oleh user atau pengguna. Persepsi sesorang terhadap space juga dipengaruhi oleh faktor budaya. Budaya terbentuk secara kontekstual dan memiliki ke khas an masing-masing di berbagai konteks wilayah dan setting.
Ketika berbicara tentang konteks, permukiman di Indonesia memiliki dualisme tipologi, dimana terdapat horizontal housing dan vertical housing. Apabila dikerucutkan lagi untuk konteks masyarakat berpenghasilan rendah, horizontal housing mayoritas berupa kampung dan vertical housing berupa rumah susun.




Sepertinya merupakan hal lumrah apabila kita berbicara tentang  social space pada tatanan hunian kampung, dimana dalam tipologi ini social space yang dihadirkan dapat meraih kondisi optimalnya. Social space yang dapat dihadirkan di kampung juga beragam, mulai dari ruang sosial antar penghuni, ruang ekonomi, ruang budaya, ruang bermain anak, dan fungsi-fungsi lainnya. Shared outdoor space dalam konteks Kampung urban di Indonesia merupakan gang atau jalan kecil yang berada di Kampung. Juga area-area lain di sekitar permukiman yang digunakan bersama untuk kegiatan komunitas warga dan membangun sense of neighborhood [2]. Selain itu, open space diluar rumah memiliki peran yang signifikan terhadap kehidupan di kampung. Gang kampung tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan, antara lain memasak, mencuci, bermain, mandi, dan community gathering. Dimana mengurangi luas shared outdoor space di kampung berarti mematikan kehidupan dan budaya di kampung [3].

Eksistensi Ruang Sosial dalam Rumah Susun, apakah hanya fiksi?
Ruang sosial di kampung terbukti bukan menjadi sebuah cerita fiksi belaka. Ia memang ada, nyata, dan dapat dirasa. Lalu bagaimana dengan ruang sosial di rumah susun? Karena bagaimanapun, perkembangan peradaban khususnya di perkotaan akan membawa kita pada satu budaya baru kedepannya, yakni budaya hunian vertikal, rusun salah satunya. Mau tidak mau. Namun yang menjadi fenomena adalah, masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan budaya dan pola tipologi rumah susun. Koridor  rumah susun yang tergolong sempit dan susunan permukiman vertikal kurang dapat mewadahi kebutuhan akan ruang sosial dan budaya masyarakat. Seperti contohnya pada rusunawa Penjaringan dan rusunawa Randu di Kota Surabaya berikut. Dimana rusun tersebut memiliki koridor yang relatif sempit, yakni sekitar 1,5 – 2 meter. Lalu dengan kondisi koridor seperti ini, apakah ketercapaian pengadaan ruang sosial tersebut dapat terpenuhi? Rasanya sulit untuk menghadirkan ruang sosial yang sarat makna tersebut dengan keterbatasan ruang ini. Lalu, [fiksi]kah eksistensi ruang sosial pada rumah susun?


 
Belajar pada Rusunawa Sombo, Surabaya
Tidak perlu terburu-buru untuk mendefinisikan sesuatu. Seperti tentang pertanyaan apakah ruang sosial pada rumah susun hanyalah sekedar fiksi belaka. Karena semua pertanyaan pasti dirancang untuk menemui sebuah jawaban. Dan agar jawabannya bukanlah sebuah fiksi belaka, kini muncullah satu pertanyaan penting tentang bagaimana peran arsitek yang harus sebisa mungkin mendesain koridor rusunawa sehingga dapat mengakomodir ruang sosial penggunanya seperti di kampung.
Dalam hal ini kita bisa belajar pada rusunawa Sombo di Kota Surabaya. Rusunawa Sombo yang dibangun sejak tahun 1989 ini didesain dengan koridor lebar dengan tujuan mewadahi behaviour setting penggunanya sama seperti karakteristik gang di Kampung. Koridor yang sangat lebar 3m-9m memberikan kesan sangat longgar, dipakai sebagai ruang bersama dengan bentuknya yang dinamis. Mayarakat rusun Sombo ini merupakan masyarakat permukiman kumuh Sombo yang direlokasi ke rusun. Permukiman kumuh tersebut mempunyai tingkat kepadatan yang sangat tinggi dan sangat kumuh [4].
Dalam sejarahnya, rumah susun Sombo merupakan hasil urban renewal dan relokasi dari warga yang tinggal di kampung kumuh dengan lokasi yang sama sebelumnya. Pattern budaya masyarakat kampung mengakibatkan pola perilaku yang diharapkan terjadi di rusunawa dapat mewadahi aktifitas sosial seperti di kampung, namun tentunya terdapat perbedaan yang terpengaruh oleh setting lingkungan, dimana rusunawa yang bersifat vertical space dan kampung yang bersifat horizontal space. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan pendekatan partisipatif yang hendak mempertahankan gaya hidup yang sudah biasa dianut masyarakat yaitu guyub dan bersama, diusahakan juga agar pola komunitas terjaga dengan baik. Penduduk juga diberi peluang tidak saja meyetujui pola perencanaan yang ditawarkan, tetapi ada pula kesempatan untuk menyelesaikan kekhasan di masing-masing blok, seperti perumahan di kampung. Hal ini membuat masyarakat lebih menyatu dengan rumah dalam standar yang lebih tinggi [5]



Dengan adanya pendekatan ini, dapat diidentifikasi aktifitas masyarakat yang terjadi di rusun Sombo hampir sama dengan aktifitas penduduk di kampung. Dengan desain koridor yang cukup lebar dan luas tersebut, banyak dinamika aktifitas ruang sosial yang dapat terwadahi. Dalam hal ini, koridor menjadi sebuah tempat penghubung kegiatan bersama penghuni rumah susun. Seperti contohnya kegiatan primer yang selalu dilakukan penghuni setiap hari yakni makan, mandi, mencuci, menjemur pakaian, dan memasak. Juga kebutuhan aktifitas sekunder seperti bersosialisasi, bermain, berdagang, dan lain sebagainya.
Koridor pada rusunawa Sombo juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang bermain anak yang nyaman. Karena bagaimanapun, anak akan menghabiskan waktu terbanyaknya berada di rumah. Mulai dari belajar, bermain, sampai pembentukan karakter dasar pribadi masing-masing anak. Dan apabila sebuah hunian seperti rusun tidak ramah terhadap ruang bermain anak, tentu dapat dibayangkan betapa buruk dampaknya terhadap perkembangan anak. Karena seperti statement Lynch yakni “a good world for children is a good world for all” (Lynch,1984).
Selain itu yang menjadi menarik, banyak personalisasi yang dilakukan penghuni terhadapkoridor untuk memenuhi aktifitas sehari-harinya. Sehingga bukan hanya ruang sosial yang terbentuk, melainkan fungsi lain seperti ruang ekonomi juga dapat dilakukan di koridor rusunawa Sombo. Mulai dari aktifitas ekonomi individu penghuni, aktifitas jasa seperti menjahit, sampai koridor rusunawa dapat menjadi tempat berdagang pedagang kaki lima. Meski tak seharusnya seperti itu, namun aktifitas ekonomi tersebut terbukti mendapat respon positif dari penghuni. Dimana para penghuni dapat memiliki bisnis keluarganya sekaligus menjadi konsumen untuk produk-produk yang dijajakan tanpa harus keluar dari blok rusunawa.

 Dalam studi kasus ini, terlihat bahwa koridor rumah susun juga dapat menjadi sebuah penjelmaan dari gang kampung dengan turut serta membawa permaknaannya sebagai ruang sosial yang paling optimal bagi penghuni. Sehingga menjadi bukti, bahwa apabila rumah susun didesain dengan strategi desain yang baik serta melibatkan partisipasi masyarakatnya, ruang sosial yang dihadirkan bukan hanya sebuah fiksi dan klise belaka. Ruang sosial tersebut dapat menjelma menjadi suatu makna yang  nyata. Meskipun pada implementasinya, mendesain rumah susun secara partisipatif tentunya tidak mudah, butuh waktu dan proses yang panjang. Bahkan mungkin biaya yang juga tidak murah. Namun apabila masyarakat bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, bukankah proses yang panjang tersebut patut untuk diperjuangkan?

Namun bagaimanapun, tulisan ini hanya merupakan opini dan argumentasi dari seorang mahasiswa arsitektur yang masih amatir dan perlu banyak belajar. Berakar dari sebuah kondisi nyata yang ada, sedikit mencoba untuk menelisik realita.
 

instagram

connect on linkedin

follow us on facebook

follow us on instagram

follow us on instagram